Friday, July 13, 2018


Rubah Sekolahku

Massulowalie merupakan desa yang cukup terisolir di kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan. Daerah yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan nelayan itu bisa diakses kurang lebih 3 jam dari pusat kota Pinrang dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun mobil. Bertani dan melaut sudah menjadi rutinitas wajib bagi setiap kepala keluarga disana dan hampir setiap harinya melibatkan istri dan anak-anaknya untuk bekerja. “Jika kamu akan menjadi orang yang sukses maka bersekolahlah” kalimat ini seakan-akan hanya sebagai symbol belaka di pemukiman tersebut. Bahkan salah satu anak yang ditanyai terkait kegiatan sehariannya berkomentar “Na ganggui saja kerjaku ini sekolahku e” yang maksudnya waktu berharga anak tersebut disita oleh sekolah untuk bekerja dan berpenghasilan. Sederhananya, Massulowalie ini adalah teritori pekerja atau buruh karena upah mereka dalam sehari sangat menentukan kehidupan mereka. “kalau tidak bekerjaki apa dimakan ini hari” kata seorang orang tua dari anak-anak disana bahwa tanpa kerja sehari takkan ada sesuap nasi untuk hari ini. Kurangnya perhatian terhadap fasilitas pendidikan dari pemerintah setempat dan minimnya sdm yang berkualitas semakin mempertegas bahwa sekolah adalah lembaga yang dianak tirikan di desa ini. Sawah subur sekolah longsor.



Kehidupan sosial Massulowalie dikategorikan menengah ke bawah. Sebagian dari warga ada juga yang bekerja sebagai guru PNS walaupun yang istirahatnya kebanyakan di sawah atau di kebun. Mereka peduli terhadap peserta didiknya tapi lebih merana jika lahan garapannya terbengkalai. Hal ini juga membuat psikologis anak berpengaruh karena ketika orang tua bermasalah dengan pekerjaannya maka merekalah yang jadi sasarannya. Apakah dengan mengorbankan jam sekolahnya ataukah mirisnya mereka disuruh berhenti bersekolah demi mencari nafkah bersama orang tua mereka. Strata sosial dan gengsi juga terlihat di lingkungan ini. Sangat nyata hanya segelintir dari warga yang menyebutkan pendidikan sebagai jembatan masa depan karena pekerjaan inilah yang telah menguasai mereka. Berlomba untuk menata rumah, meningkatkan quantitas perabot, dan investasi sana-sini tapi tidak membuat hati mereka sedikitpun untuk sadar akan pentingnya bersekolah. Mereka malu jika rumahnya masih blum megah tapi bangga bila tidak melek literasi. “kita bisa tonjiki begini walaupun tidak bisaki membaca sama menulis”. Mereka masih bisa berpenghasilan walupun buta huruf kata salah satu remaja disana ketika ditanyai kenapa tidak lanjut sekolah.
Salah seorang tokoh masyarakat, Abdul Paris, seorang guru agama PNS setempat berpendapat bahwa harus ada pelopor-pelopor muda yang bisa mendongkrak paradigma masyarakat disini melalui aksi nyata yang berkelanjutan agar ada satu hal yang bisa menyadarkan mereka untuk bisa mengetahui sedikit celah mengenai urgensi pendidikan bagi masa depan mereka terlebih pada anak-anak mereka. Tentunya harus ada dukungan moral juga dari pihak desa ini untuk menjembatani kegiatan sosial yang akan disalurkan ke warga agar pada saat prosesi kegiatan bisa berjalan kondusif dan efektif.

Proses Belajar Mengajar

Selebrasi Lomba Bahasa Inggris


Setelah memperoleh inisiasi dari pak Paris, Nirma Paris, putri kedua dari pak Paris yang berstatus mahasiswa STAIN Parepare jurusan pendidikan bahasa Inggris menuju kampus dan mengajak para mahasiswa yang juga sebagai sahabat-sahabat lembaga bahasa kampus untuk bersukarela menolong para warga dan adik-adik peserta didik yang ada di desanya. Sambutannya pun positif namun para mahasiswa ini bergerak bukan atas kelembagaan kampus tetapi dibawah rangkulan NGO (non-governmental organization) bernama Indonesian Youth for Education (IYE). Program andalan IYE ini adalah Sahabat Pulau yang pada dasarnya didirikan berdasarkan dedikasi para alumni pertukaran mahasiswa Indonesia-Kanada yang harus berkonstribusi nyata untuk melayani masyarakat khususnya pada bidang pendidikan yakni Education, Educate, Educated.



No comments:

Post a Comment