Rubah Sekolahku
Massulowalie merupakan desa yang
cukup terisolir di kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan. Daerah yang mayoritas
penduduknya berprofesi sebagai petani dan nelayan itu bisa diakses kurang lebih
3 jam dari pusat kota Pinrang dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun
mobil. Bertani dan melaut sudah menjadi rutinitas wajib bagi setiap kepala
keluarga disana dan hampir setiap harinya melibatkan istri dan anak-anaknya
untuk bekerja. “Jika kamu akan menjadi orang yang sukses maka bersekolahlah” kalimat
ini seakan-akan hanya sebagai symbol belaka di pemukiman tersebut. Bahkan salah
satu anak yang ditanyai terkait kegiatan sehariannya berkomentar “Na ganggui
saja kerjaku ini sekolahku e” yang maksudnya waktu berharga anak tersebut
disita oleh sekolah untuk bekerja dan berpenghasilan. Sederhananya,
Massulowalie ini adalah teritori pekerja atau buruh karena upah mereka dalam
sehari sangat menentukan kehidupan mereka. “kalau tidak bekerjaki apa dimakan
ini hari” kata seorang orang tua dari anak-anak disana bahwa tanpa kerja sehari
takkan ada sesuap nasi untuk hari ini. Kurangnya perhatian terhadap fasilitas
pendidikan dari pemerintah setempat dan minimnya sdm yang berkualitas semakin
mempertegas bahwa sekolah adalah lembaga yang dianak tirikan di desa ini. Sawah
subur sekolah longsor.
Kehidupan sosial Massulowalie
dikategorikan menengah ke bawah. Sebagian dari warga ada juga yang bekerja
sebagai guru PNS walaupun yang istirahatnya kebanyakan di sawah atau di kebun.
Mereka peduli terhadap peserta didiknya tapi lebih merana jika lahan garapannya
terbengkalai. Hal ini juga membuat psikologis anak berpengaruh karena ketika
orang tua bermasalah dengan pekerjaannya maka merekalah yang jadi sasarannya.
Apakah dengan mengorbankan jam sekolahnya ataukah mirisnya mereka disuruh
berhenti bersekolah demi mencari nafkah bersama orang tua mereka. Strata sosial
dan gengsi juga terlihat di lingkungan ini. Sangat nyata hanya segelintir dari
warga yang menyebutkan pendidikan sebagai jembatan masa depan karena pekerjaan
inilah yang telah menguasai mereka. Berlomba untuk menata rumah, meningkatkan
quantitas perabot, dan investasi sana-sini tapi tidak membuat hati mereka
sedikitpun untuk sadar akan pentingnya bersekolah. Mereka malu jika rumahnya
masih blum megah tapi bangga bila tidak melek literasi. “kita bisa tonjiki
begini walaupun tidak bisaki membaca sama menulis”. Mereka masih bisa
berpenghasilan walupun buta huruf kata salah satu remaja disana ketika ditanyai
kenapa tidak lanjut sekolah.
Salah seorang tokoh masyarakat,
Abdul Paris, seorang guru agama PNS setempat berpendapat bahwa harus ada
pelopor-pelopor muda yang bisa mendongkrak paradigma masyarakat disini melalui
aksi nyata yang berkelanjutan agar ada satu hal yang bisa menyadarkan mereka
untuk bisa mengetahui sedikit celah mengenai urgensi pendidikan bagi masa depan
mereka terlebih pada anak-anak mereka. Tentunya harus ada dukungan moral juga
dari pihak desa ini untuk menjembatani kegiatan sosial yang akan disalurkan ke
warga agar pada saat prosesi kegiatan bisa berjalan kondusif dan efektif.
![]() |
| Proses Belajar Mengajar |
![]() |
| Selebrasi Lomba Bahasa Inggris |
Setelah memperoleh inisiasi dari pak Paris, Nirma Paris, putri kedua dari pak
Paris yang berstatus mahasiswa STAIN Parepare jurusan pendidikan bahasa Inggris
menuju kampus dan mengajak para mahasiswa yang juga sebagai sahabat-sahabat
lembaga bahasa kampus untuk bersukarela menolong para warga dan adik-adik
peserta didik yang ada di desanya. Sambutannya pun positif namun para mahasiswa
ini bergerak bukan atas kelembagaan kampus tetapi dibawah rangkulan NGO
(non-governmental organization) bernama Indonesian Youth for Education (IYE).
Program andalan IYE ini adalah Sahabat Pulau yang pada dasarnya didirikan
berdasarkan dedikasi para alumni pertukaran mahasiswa Indonesia-Kanada yang
harus berkonstribusi nyata untuk melayani masyarakat khususnya pada bidang
pendidikan yakni Education, Educate, Educated.


No comments:
Post a Comment